WAWBERITA – Secara definisi, nasionalisme adalah sebuah paham kebangsaan. Paham ini mengajarkan tentang kesetiaan tertinggi individu. Kesetiaan tersebut harus diberikan kepada negara dan bangsanya.
Akibatnya, kepentingan dan kedaulatan negara selalu diutamakan. Paham ini lahir dari adanya identitas bersama. Misalnya, seperti kesamaan bahasa, budaya, sejarah, dan cita-cita. Dengan demikian, nasionalisme menjadi pengikat yang sangat kuat.
Jejak Nasionalisme di Indonesia
Nasionalisme di Indonesia tidak lahir begitu saja. Ia adalah buah dari perjuangan yang sangat panjang. Benih-benihnya mulai tumbuh pada awal abad ke-20. Momen ini kemudian dikenal sebagai era Kebangkitan Nasional.
Saat itu, mulai bermunculan organisasi-organisasi pergerakan. Contohnya seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Organisasi ini membangkitkan kesadaran kaum terpelajar.
Kemudian, lahirlah sebuah momen yang sangat monumental. Momen itu adalah Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah yang utama. Para pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan satu sumpah bersama.
Mereka bersumpah untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Puncak dari semua perjuangan ini tentu saja adalah Proklamasi Kemerdekaan. Tepatnya, pada tanggal 17 Agustus 1945.
Dibalik Berbagai Wajah Nasionalisme
Nasionalisme sendiri memiliki beberapa bentuk yang berbeda. Setiap bentuk memiliki dasar pijakannya masing-masing.
Pertama, ada nasionalisme sipil atau kewarganegaraan. Bentuk ini didasarkan pada kehendak rakyat untuk bersatu. Ikatan utamanya adalah kesamaan nilai-nilai. Misalnya, seperti demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia.
Di sisi lain, ada nasionalisme etnis atau kultural. Bentuk ini didasarkan pada kesamaan suku, bahasa, atau budaya. Nasionalisme Indonesia sendiri lebih condong ke arah nasionalisme sipil. Hal ini sangat sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dibalik Nasionalisme Tersimpan Dua Sisi Mata Uang
Seperti ideologi lainnya, nasionalisme memiliki dua sisi. Ia bisa menjadi kekuatan yang sangat positif. Namun, jika berlebihan, ia juga bisa menjadi sangat destruktif.
- Sisi Positif Nasionalisme
Dampak positifnya sangatlah besar. Nasionalisme adalah alat pemersatu yang paling efektif. Ia mampu menyatukan masyarakat yang sangat beragam. Selain itu, ia juga menjadi motivasi untuk memajukan bangsa. Serta, mendorong semangat rela berkorban demi negara.
- Sisi Negatif (Jika Berlebihan)
Akan tetapi, nasionalisme yang berlebihan sangat berbahaya. Ia bisa berubah menjadi chauvinisme. Ini adalah paham yang menganggap bangsanya paling unggul dan merendahkan bangsa lain.
Lebih lanjut, ia bisa memicu xenofobia atau sentimen anti-asing. Akibatnya, hal ini bisa berujung pada konflik dan agresi. Memahami perbedaan ini penting agar Nasionalisme tidak terjerumus menjadi chauvinisme.
Nasionalisme di Tengah Arus Globalisasi
Di era modern, tantangan nasionalisme semakin kompleks. Arus globalisasi membawa masuk berbagai budaya asing. Hal ini terkadang menimbulkan benturan dengan identitas lokal kita.
Namun, globalisasi juga membuka cara baru untuk berekspresi. Nasionalisme tidak lagi hanya tentang perang fisik. Kini, ia bisa ditunjukkan melalui berbagai cara.
Misalnya, dengan meraih prestasi di kancah internasional. Selain itu, mendukung dan menggunakan produk lokal juga merupakan bentuk nasionalisme. Diplomasi budaya untuk mengenalkan Indonesia ke dunia juga sangat penting.
Pada akhirnya, nasionalisme adalah sebuah semangat yang dinamis. Maknanya akan terus berkembang seiring zaman. Ia bukanlah paham yang kaku dan anti-perubahan.
Tugas kita bersama adalah merawatnya. Menjaga agar nasionalisme Indonesia tetap positif, terbuka, dan inklusif. Semangat ini akan selalu relevan. Terutama, untuk menjaga keutuhan kita sebagai sebuah bangsa yang besar.
Perayaan kemerdekaan mungkin telah usai. Akan tetapi, api Nasionalisme harus terus kita jaga. Agar ia tetap menyala di dalam hati sanubari kita, setiap hari.


