WAWBERITA – Tepat di Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia ini, kita mengenang para pahlawan bangsa. Namun, ada pahlawan yang berjuang di medan yang berbeda. Ia berjuang untuk kemerdekaan berekspresi melalui film. Sosok itu adalah Usmar Ismail. Ia dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Lebih dari sekadar sutradara, ia adalah seorang pejuang, sastrawan, dan budayawan. Oleh karena itu, mari kita telusuri jejak hidupnya. Sebuah kisah tentang perjuangan untuk melahirkan film yang berkepribadian Indonesia.
Awal Kehidupan dan Pendidikan
Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 20 Maret 1921. Sejak muda, bakat seninya sudah terlihat. Ia menempuh pendidikan di HIS, MULO B, hingga AMS-A II.
Kecintaannya pada seni tidak membuatnya berhenti belajar. Kemudian, pada tahun 1952, ia mendapat beasiswa dari Yayasan Rockefeller. Beasiswa ini membawanya belajar film di Amerika. Akhirnya, ia meraih gelar Sarjana Muda dari University of California in Los Angeles (UCLA) pada 1953.
Perjalanan Kesenian Awal
Sebelum dikenal sebagai sineas, Usmar adalah seorang sastrawan. Ia memulai karirnya sebagai penyair dan penulis naskah sandiwara. Karya-karyanya pun diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Pada masa pendudukan Jepang, ia aktif di Pusat Kebudayaan. Di sana, ia melakukan banyak pembaruan di bidang teater. Bersama kakaknya, Abu Hanifah, ia mendirikan perkumpulan sandiwara “Maya”.
Perkumpulan ini sangat penting. Sebab, saat itu sandiwara dianggap kesenian rendahan. Namun, “Maya” berhasil mengangkat derajatnya. Dengan demikian, Usmar Ismail mulai membangun fondasi sebagai seorang seniman pembaharu.
Peran di Masa Revolusi Kemerdekaan
Saat revolusi meletus, panggilan sejarah membawanya ke medan perang. Usmar Ismail bergabung dengan tentara. Ia bahkan mencapai pangkat mayor di Yogyakarta.
Namun, jiwanya sebagai seniman tidak pernah padam. Di tengah perang, ia memimpin harian Patriot dan majalah Arena. Media ini menjadi gelanggang bagi para seniman muda pejuang.
Perhatiannya pada dunia film pun mulai tumbuh saat itu. Bahkan, ia pernah ditangkap oleh Belanda pada tahun 1948. Saat ditahan, ia justru dipekerjakan di studio film milik Belanda. Pengalaman inilah yang menjadi titik baliknya.
Lahirnya Bapak Perfilman Nasional
Usmar Ismail merasa tidak puas dengan film-film buatan Belanda. Ia merasa film-film itu tidak mencerminkan jiwa Indonesia. Oleh karena itu, ia memiliki sebuah visi yang besar.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, ia langsung mengambil langkah berani. Ia berhenti dari dinas militer. Selanjutnya, ia bersama teman-temannya mendirikan sebuah perusahaan film.
Pada 30 Maret 1950, lahirlah PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Produksi pertamanya adalah film legendaris Darah dan Do’a. Tanggal dimulainya syuting film inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.
Bagi Usmar, film bukan sekadar produk komersial. Lebih dari itu, film adalah karya seni. Sebuah media untuk mengekspresikan kepribadian bangsa. Prinsip inilah yang menjadikannya seorang pelopor sejati.
Karya-Karya Penting dan Tantangannya
Sepanjang karirnya, Usmar menghasilkan banyak karya monumental. Film seperti Lewat Djam Malam dan Tamu Agung mendapat pujian kritis. Ia berhasil membebaskan akting film dari gaya teater yang kaku.
Namun, idealismenya seringkali berbenturan dengan pasar. Film Tamu Agung, misalnya, menang sebagai film komedi terbaik di Festival Film Asia. Akan tetapi, film itu tidak laku di Indonesia karena sindiran politiknya terlalu cerdas.
Akibatnya, PERFINI mengalami kebangkrutan. Untuk menyelamatkan perusahaan, ia terpaksa membuat film komersial seperti Tiga Dara. Keputusan ini membuatnya diserang habis-habisan oleh kalangan komunis (PKI). Serangan politik terhadap Usmar Ismail semakin berbahaya.
Warisan dan Pengakuan Abadi
Meskipun penuh tantangan, warisan Usmar Ismail tidak pernah padam. Ia adalah manusia multidimensi. Seorang pejuang, wartawan, budayawan, dan insan film sekaligus.
Banyak tokoh besar mengakui kehebatannya. Umar Kayam menyebutnya sebagai seorang intelektual. Sementara itu, Misbah Yusa Biran mengajak kita untuk meneruskan cita-citanya.
Sebagai pengakuan atas jasanya, namanya diabadikan. Pemerintah mendirikan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di Jakarta. Selain itu, ia juga menerima banyak penghargaan anumerta. Salah satunya adalah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI.
Pada akhirnya, Usmar Ismail adalah seorang pahlawan. Ia tidak mengangkat senjata untuk merebut wilayah. Sebaliknya, ia mengangkat kamera untuk merebut jiwa dan identitas bangsa di layar perak.
Perjuangannya adalah perjuangan untuk kemerdekaan artistik. Di hari yang bersejarah ini, kita tidak hanya merayakan kemerdekaan politik. Namun, juga kemerdekaan budaya yang diperjuangkan oleh tokoh seperti Usmar Ismail. Warisannya akan terus hidup dan menginspirasi sineas Indonesia selamanya.


